Komsumsi Sehat
Sejarah telah membuktikan bahwa bangsa Jepang sebagai negara jatuh akibat kalah perang telah bangkit dari keterlenaan dan kesedihan. Mereka telah bangkit dalam semua sisi kehidupan, industri, kesehatan, pendidikan dan lain-lain. Namun yang patut di pertanyakan mengapa kita tidak iri dengan kemajuan yang telah di capai bangsa itu? Rasanya aneh apabila kita berkata tidak.
Bangsa kita dan bangsa Jepang sama-sama berangkat dari waktu yang sama. Kita bergerak bersama dalam membangun dengan start yang baik diawali pembangunan infrastruktur : jalan, sekolah, rumah sakit.
Namun kenyataannya kita tertinggal jauh sekali, apa sebabnya perlu kita wacanakan di ruang publik ini. Kalau melihat/menyimak keseharian bangsa itu, adalah gigih dan tetap memegang tata krama kehidupan. Mereka mempersiapkan satu generasi yang terpelajar yang dibarengi dengan kesehatan fisik dan mental yang mempuni. Dalam pengertian sebenarnya mereka menyekolahkan anak-anak mereka dengan memperhatikan seluruh kebutuhan hidup anak-anak tersebut tidak hanya kebutuhan untuk pendidikan tapi juga kebutuhan diet harian yang mempunyai nilai gizi yang tinggi.
Ironis dengan negara kita ada banyak anak-anak pelajar yang mempunyai cita-cita yang tinggi, namun karena keterbatasan untuk memenuhi keperluan pendidikan dan konsumsi sehari-sehari. Maka hasil akhirnya pun berbeda sekali, tingkat keterpelajaran itu kita jauh di bawah rata-rata keterpelajaran bangsa jepang karena anak-anak pelajar di negeri ini masih memikirkan apa yang akan dimakan untuk besok hari. Dan tidak perlu jauh-jauh kita mencari pembanding dengan Malaysia saja kita telah tertinggal.
Saya tidak mau memungkiri kenyataan yang ada di sekelilingku saat ini, pelajar-pelajar sekarang ini kalau sedang awal bulan mereka makan-makan di warung. Tapi saat pertengahan bulan mereka cuma bisa merebus me instan untuk menganjal perut, apakah hal ini sudah sehat. Coba aja kita renungkan bersama.